2019, Pilpres Milik PKS

2019, Pilpres Milik PKS
Oleh: Iko Musmulyadi
(Direktur IMALA- _Istana Mulia Asia Leadership Academy)_

Terlalu dini memang menebak pilpres 2019 milik siapa. Tapi gejala politik dapat dibaca.  Kalau di Amerika ada namanya ‘sistem 13 kunci’,  sebuah formula rahasia untuk memprediksi siapa yang akan menang dalam pilpres AS,  bahkan 2,5 tahun sebelum pilpres berlangsung sudah bisa ditebak siapa pemenangnya. Sistem yang ditemukan oleh Allan Lichtman profesor sejarah AS dan dikembangkan bersama ahli matematika Volodia Keilis-Borok itu telah terbukti benar dalam setiap pilpres di AS sejak tahun 1984 lalu. 

Itu di Amerika, di Indonesia belum ada. Tapi jelas dirasa belakangan ini,  panas dingin suhu politik lokal dan nasional tak lepas dari manuver PKS.  Sejak aksi fenomenal memperjuangkan dan menumbangkan Ahok-Djarot dari kursi nomor satu DKI Jakarta,  koalisi pilgub PKS-Gerindra-PAN di lima pilkada 2018,  launching sembilan capres/cawapres,  hingga gerakan 2019 ganti presiden.  Semua dimotori oleh PKS dan/atau kader PKS. Partai reformis ini cukup mencuri perhatian publik. 

Beberapa realitas politik menunjukkan sinyal pilpres 2019 milik PKS.

Pertama, mengacu pada hasil Pilkada Serentak 2015 dan 2017. Pada Pilkada 2015, PKS berhasil meraih kemenangan sebesar 52 persen. Sedangkan pada 2017 PKS meraih 56 persen kemenangan. Dua pilkada serentak itu cukup menunjukkan hasil yang menggembirakan buat permulaan PKS menghadapi pemilu 2019. Di pilkada serentak 2018 ini PKS berani mematok target lebih tinggi,  yaitu kemenangan 60%.   Serta optimis menatap pemilu 2019 dengan 12%.  Meminjam istilah Eep Saefullah Fatah,  kalau Pilkada 2015 dan 2017 itu gladi kotor,  gladi bersihnya pilkada 2018.  Maka cukup bagus menurut saya,  dimana dalam dua kali gladi kotor PKS mengalami kenaikan persentase kemenangan di pilkada. Target untuk menang 60% di gladi bersih Pilkada 2018 tentu amat lebih meyakinkan.  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 akan berpengaruh secara signifikan terhadap dinamika Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Kedua, peran PKS dalam kemenangan Anies-Sandi di pilkada DKI Jakarta yang lalu.  Publik menilai PKS dan Mardani Ali Sera mengambil peran cukup signifikan dalam menyelamatkan Jakarta. Aksi penyelamatan oleh PKS ini tentu akan terkonversi atau akan berbuah manis dalam bentuk limpahan suara di pemilu 2019 nantinya.  Apalagi Jakarta sebagai barometer politik nasional,  maka pemenang pilkada DKI akan mendongkrak perolehan suara di pemilu 2019.  

Ketiga, gerakan 2019 ganti presiden yang terus membesar.  Bahkan kabarnya mendapat dukungan lebih dari 160 juta masa. Ini tanda-tanda,  bahwa mayoritas masyrakat Indonesia memang menginginkan ada pergantian kepemimpinan nasional di 2019. Gerakan yang dimotori oleh kader PKS ini dan disambut positif oleh publik bisa juga dibaca sebagai dukungan publik terhadap capres/cawapres PKS.  Meski sebenarnya tidak juga linier seperti itu,  tapi tentu tinggal bagaimana kemudian PKS mampu mengelola secara cerdas komunitas gerakan kaos ganti presiden ini menjadi kantong-kantong suara di pemilu 2019.

Keempat, sinyal kesediaan Prabowo yang akan memenuhi syarat koalisi yang diajukan PKS, yaitu mengambil satu diantara sembilan cawapres tersedia. Dalam konteks ini,  saya melihat kans Prabowo-Aher sangat kuat.  Saya memprediksi di 2019 pertarungannya adalah antara Prabowo-Aher VS Jokowi-cawapres (X). Siapa pemenangnya?  Sangat  tergantung faktor X cawapres Jokowi. Jika Jokowi mengambil cawapresnya dari salah satu kader partai koalisi yang nasionalis,  maka besar kemungkinan cita rasa politik pertarungan pilkada DKI 2017 akan tercermin dalam pilpres 2019. Dan Jokowi bersiap tumbang,  sebagaimana rontoknya Ahok-Djarot.  Dengan hitung-hitungan ini, maka besar kemungkinan kemudian Jokowi mengambil cawapres dari tokoh ummat Islam. Jika memang benar-benar Jokowi untuk mengimbangi Prabowo-Aher,  bisa jadi kemudian akan mengambil Anis Matta sebagai cawapres.

Jadilah Prabowo-Aher VS Jokowi-Anis.  Ini baru pilpres 2019 milik PKS!
Advertisement
aplikasi

You might also like