Wahai Warga NU dan Kader PKS Jangan Mau Diadudomba

Wahai Warga NU dan Kader PKS Jangan Mau Diadudomba
Berita PKS - PEKERJAAN rumah yang paling besar dari umat adalah bersatunya mereka dalam kekuatan politik Islam. Pekerjaan rumah ini tetap saja masih menjadi pekerjaan yang belum usai hingga sekarang.

Politik Islam tidak bermakna sempit politik praktis, tetapi bersatunya umat untuk satu tujuan perjuangan. Yakni mengakomodir kepentingan umat Islam dalam perjuangan-perjuangan politik.

Ujian persatuan umat semakin menjadi-jadi menjelang Pilkada serentak 2018 dan nantinya diprediksi menjelang Pilpres 2019. Setiap umat Islam tentu saja bebas menentukan pilihannya masing-masing. Tetapi amat sangat disayangkan jika karena perbedaan pandangan harus sampai dibenturkan elemen umat yang satu dengan elemen umat yang lain.

Contoh kecil yang baru saja terjadi adalah kejadian usai kunjungan KH Yahya Cholil Staquf ke Yerusalem. Sengaja tidak memakai identitas jabatan beliau, karena beliau diundang sebagai pribadi.

Berbagai pendapat merebak usai kunjungan Kyai Yahya. Tak pelak berbagai elemen umat juga ikut berkomentar. Tetapi, semakin kesini isu kunjungan Kyai Yahya ini kemudian ditarik oleh pegiat (baca:buzzer) media sosial untuk membenturkan Nahdlatul Ulama (NU) dengan PKS.

Memang harus diakui kader dan simpatisan PKS di media sosial cukup keras mengomentari kunjungan Kyai Yahya ke Israel. Bahkan ada yang harus meminta maaf karena sempat mencuit kata-kata keras yang ditujukan kepada Kyai Yahya. Sontak, kondisi ini menjadi makanan empuk bagi orang-orang yang tidak berkenan jika elemen-elemen umat bersatu.

Jika kita ingin jujur hubungan elite PKS dan NU sejatinya tak pernah ada masalah. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid bahkan menitipkan donasi ke Rohingya lewat PKS. Beliau lewat akun twitternya bahkan blak-blakan jika banyak guru di Tebuireng juga memilih PKS.
Tetapi hubungan naik turun justru dialami oleh warga Nahdliyin dan simpatisan PKS di dunia maya. Padahal kalau kita mau jujur menengok langsung di lapangan (dunia nyata), tak pernah terdengar gesekan antara warga Nahdliyin dan PKS yang cukup serius.

Beberapa hari lalu bahkan saya mendapatkan kiriman gambar dua orang pemuda. Yang satu memakai kaus Banser berdampingan dengan pemuda dengan kaus Relawan PKS. Keduanya sedang serius memantau arus mudik di Jawa Timur.

Kader PKS jangan sampai lupa jika para petinggi PKS juga lahir dan dekat dengan rahim NU. Sebagai organisasi Islam tradisional terbesar di Indonesia, wajar jika NU memberikan warna dan corak kepada semua elemen umat di Indonesia. Apalagi terhadap partai-partai Islam.

Dua orang yang menduduki Ketua Majelis Syuro PKS, bersentuhan langsung dengan NU. Mantan Ketua Majelis Syuro PKS KH Hilmi Aminuddin adalah alumnus Pondok Pesantren Tebuireng, pesantren yang didirikan oleh Pendiri NU Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari. Sementara, Ketua Majelis Syuro yang sekarang Habib Salim Segaf Al Jufri adalah habaib pertama yang menjadi Ketua Majelis Syuro PKS.

Ketua Majelis Syuro di PKS pengaruhnya amatlah besar. Presiden PKS pun bukan orang yang dipilih oleh kader tetapi dipilih langsung dan menjadi hak prerogatif Ketua Majelis Syuro PKS. Betapa besar pengaruhnya seorang Ketua Majelis Syuro PKS.

Terlihat sejak beberapa tahun terakhir, PKS di tingkat pusat rutin menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahun. Pengaruh seorang Habaib di tubuh PKS semakin kentara.

Habib Salim pun tercatat kerap mendatangi undangan untuk haul beberapa tokoh ulama karismatik dari NU. Saat bertandang ke Haul 83 Almarhum Almaghfurlah Syekhuna Armia bin Kurdi di Ponpes At-Tauhiddiyah, Cikura, Bojong, Tegal, sang pengasuh KH Ahmad bin Said bin Armia bin Kurdi bersaksi jika PKS bukanlah wahabi. Saat itu, Habib Salim sedang berada di sisinya sebagai tamu undangan.

Tokoh PKS sekali lagi banyak yang lahir dari rahim NU. Maka sungguh bagi kader PKS, NU bukanlah orang lain. Kader dan simpatisan PKS terutama di dunia maya harus paham benar jika NU bukanlah ‘musuh’. Justru NU adalah guru dan pembimbing. Jangan sampai hanya karena isu-isu tertentu, kader dan simpatisan PKS ‘menyerang’ NU secara membabi-buta.

Ingat, jika elemen umat seperti NU dan PKS terus berpolemik di dunia maya lalu siapakah yang diuntungkan? Tentu saja kekuatan lain yang tidak ingin potensi umat Islam ini bersatu. Berbeda pandangan boleh dan sah saja. Tetapi berbeda pandangan sampai harus saling menyerang dan mencaci penuh kebencian jelas bukan ajaran NU maupun PKS.

Contohlah Dr Hidayat Nur Wahid yang tulus mengakui jika tradisi halal bi halal yang baru saja kita lakukan itu dicetuskan oleh KH Wahab Hasbullah. Masih banyak kebaikan yang bisa kita lihat dari saudara seiman kita dibandingkan kita terus memelihara perbedaan.

Ayo tepo seliro dan bersatu untuk kebaikan umat yang jauh lebih besar. Mumpung masih suasana lebaran.

Sumber: Jatengpos
Advertisement
Advertisement

You might also like